Mari Belajar Biologi

Tumbuhan Paku

0

Hallo sahabat edubiologi, kita jumpa lagi nih. Pada kesempatan kali ini kami akan share contoh laporan praktikum biologi terkait Tumbuhan paku, smoga bermanfaat!

Pengamatan Paku di Taman Penggaron

I. JUDUL

: Pengamatan paku di taman Penggaron

II. Tanggal dan Tempat

:  29 Mei 2013 di Taman Penggaron

 III. Tujuan

Mengetahui klasifikasi paku

IV. Dasar Teori

Tumbuhan paku merupakan suatu divisi yang warganya telah jelas mempunyai kormus, artinya tubuhnya dengan nyata dapat dibedakan dalam tiga bagian pokoknya, yaitu akar, batang dan daun. Namun demikian, pada tumbuhan paku belum dihasilkan biji. Seperti warga divisi–divisi yang telah dibicarakan sebelumnya, alat perkembang–biakan tumbuhan paku yang utama adalah spora (Gembong, 1989).

Reproduksi tumbuhan paku yaitu dengan metagenesis pergiliran reproduksi antara vegetatif dan generatif. Terdapat klasifikasi paku berdasarkan spora yaitu homospora pada Lycopodium, peralihan pada Equisetum dan heterospora yaitu pada Marsilea selaginela.

Jenis-jenis paku berdasarkan fungsi yaitu trofofil: steril (mandul) yang hanya digunakan untuk proses fotosintesis, sporofil yaitu penghasil spora dan troposporofil yaitu penghasil spora dan dapat juga berperan dalam proses fotosintesis (Prowel, 2010).

Tumbuhan paku pada perkembang biakannya menunjukkan pergiliran keturunan, yaitu fase sporofit dan fase gametofit.
  • Gametofit tumbuhan paku memiliki beberapa perbedaan dengan gametofit lumut, yaitu gametofit pada tumbuhan paku dinamakan dengan protalium tetapi sama-sama bersifat haploid. Protalium ini hanya berumur beberapa minggu saja. Bentuk dari protalium ini seperti jantung, warnanya hijau, dan melekat pada substratnya. Protalium ini terdapat pada anteridium yang terdapat pada bagian paling sempit dan arkegonium yang terdapat pada lekukan bagian yang lebar. Jadi, keduanya berada pada sisi bawah protalium di antara rizoidnya (Budiyanto, 2013).
  • Sporofit pada tumbuhan paku sangat berbeda dengan sporofit pada lumut, yaitu jika terjadi pembuahan, maka protalium akan segera binasa, tetapi jika tidak terjadi pembuahan, maka protalium dapat bertahan hidup sampai lama. Sporofit inilah yang akan tumbuh menjadi tumbuhan paku (Budiyanto, 2013).
Kebanyakan paku memiliki perawakan yang khas, sehingga tidak mudah keliru dengan macam tumbuhan lain. Sebagian dari kekhasan itu adalah :

adanya daun muda yang menggulung yang akan membuka jika dewasa, ciri yang hamper unik ini disebut Vernasi bergelung. Sebagai akibat lebih lambatnya pertumbuhan permukaan daun sebelah atas daripada sebelah bawah pada perkembangan awalnya. Ukuran dan bentuk paku sangat bervariasi yang berkisar dari paku pohon yang dapat mencapai tinggi 5 meter, sampai paku mini berlapis tipis yang daunnya hanya selapis sel dan sering tertukar dengan lumut. Sebagai tambahan terhadap berbagai jenis terrestrial yang tampak khas, banyak paku (terutama paku sarang burung)tumbuh di atas pohon dan batu karang (Ariyanto, 2000).

Deskripsi yang lain tentang tumbuhan paku adalah sebagai berikut :

Memiliki 4 struktur penting, yaitu lapisan pelindung sel (jaket steril) yang terdapat disekeliling organ reproduksi. Embrio multiseluler
yang terdapat dalam arkegonium. Kutikula pada bagian luar dan yang paling penting adalah sistem transport internal yang mengangkut air dan zat makanan dari dalam tanah. Sistem transport ini sama baiknya seperti pengorganisasian transport air dan zat makanan pada tumbuhan tingkat tinggi.

Struktur tubuh:

Akar

Bersifat seperti akar serabut, ujungnya dilindungi kaliptra yang terdiri atas sel – sel yang dapat yang dapat dibedakan sel- sel akarnya sendiri.

Batang

Pada sebagian jenis tumbuhan paku tidak tampak karena terdapat didalam tanah berupa rimbang, mungkin menjalar atau sedikit tegak. Jika muncul diatas permukaan tanah, batangnya sangat pendek sekitar 0,5 m. akan tetapi ada batang bebrapa jenis tumbuhan paku seperti paku pohon/paku tiang yang panjangnya mencapai 5 m dan kadang – kadang bercabang misalnya : Alsophilla dan cyathea

Kalsifikasi Tumbuhan Paku

Dibagi menjadi 4 subdivisi, yaitu psilophyta, Lycophyta, Sphenophyta dan Pterophyta.

1)     Psilophyta( Paku Purba )

Merupakan tumbuhan paku sederhana dan hanya memiliki dua genera, contoh yang sudah dikenal adalah Psilotum sp. Yang tersebar luas didaerah tropic dan subtropik.

2)   Lycophyta ( Paku Kawat )

Lycodium sp dapat menghasilkan spora tunggal yang akan berkembang menjadi gametofit biseksual yang memiliki organ jantan maupun betina. Sellaginella sp merupakan tanaman heterospora, karena dapat menghasilkan dua jenis spora. Spora yang berukuran besar disebut megaspore, yaitu merupakan gamet betina yang akan membentuk arkegonia. Spora yang berukuran kecil disebut mikrospora yang akan membentuk gamet jantan atau anteridia.

3)     Sphenophyta ( Paku Ekor Kuda )

Sering disebut paku ekor kuda. Peristiwa meiosis pada tumbuhan ini terjadi dalam sporangia dan akan menghasilkan spora haploid. Gametofit yang berkembang dari spora berukuran sangat kecil, tetapi dapat melakukan fotosintesis dan hidup secara bebas.

4)     Pterodophyta

Banyak terdapat dihutan subtropis maupuan didaerah tropis . paku pterophyta mempunyai daun – daun yang lebih besar dibandingkan divisi lainnya. Ada 2 jenis daun yaitu negafil dan mikrofil, megafil mempunyai sistem percabangan pembuluh, sedangkan mikrofil adalah daun yang tumbuh dari batang yang mengandung untaian tunggal jaringan pengangkut. Contohnya Marsilea crenata dan Asplenium nidus.

V. Alat dan Bahan

  1. Pisau
  2. Buku Panduan
  3. Tas plastic
  4. Stoples
  5. Alat tulis
  6. Alat dokumentasi (kamera digital dan handycam)

VI.Cara Kerja

  1. Menyiapkan alat bahan yang sudah ditentukan
  2. Menjelajahi daerah perah Penggaron
  3. Ambil tumbuhan paku dan lumut dengan hati-hati disekitar daerah tersebut
  4. Ambil semua bagian tumbuhan tersebut termasuk akar
  5. Masukan tumbuhan paku dan lumut dalam tas plastic
  6. Menyiapkan buku panduan dan mengidentifikasi tumbuhan paku dan lumut yang sudah di ambil.

VII. Hasil Pengamatan

No Gambar Keterangan
 

1

Paku suplir

 

 

 

 

 

Adiantum ceneatum ( paku suplir )

 

Sistem akar : serabut

Bentuk Batang : mengkilat berduri tegak atau semi tegak dan dijumpai sisik-sisik yang lunak atau keras.

 

2.

Paku muding

Blechnum capense ( Paku munding )

 

Batang : tegak dan berdaging

Daun muda : berwarna ungu mengkilap

Ujung helai anak daun lancip.

 

3.

Paku Bantam

Athyrium bantamense ( Paku Bantam )

 

Batang : setengah tegak

Bentuk daun : warnanya hijau gelap kebiruan dan permukaan atas mengkilap.

 

 

4.

Paku pendulum

Ophioglossum pendulum

 

Berbentuk seperti pita

Dan hidup menempel di tumbuhan lain

 

 

 

 

5.

Polypodium popillosum

Polypodium popillosum

 

 

 

 

Tumbuh menempel pada batang pohon yang masih hidup atau mati

Daun : memiliki tonjolan atau papillose

Rimpang panjang,umumnya tidak bercabang

 

6.

 

Athyrium macrocarpum

Athyrium macrocarpum

 

Daun berbentuk menyirip

Memilki rimpang pendek

Rimpang ditutupi oleh sisik berwarna coklat

 

Variabel bebas : Macam-macam tumbuhan paku , keterangan gambar, deskripsi sementara, deskripsi sebenarnya dan klasifikasi.

Variabel terikat : Mengenal berbagai macam spesies serta ciri-ciri dan taksonomi dari tumbuhan paku

Variabel Terkontrol : Membandingkan dengan buku panduan tumbuhan paku yang telah ditemukan.

VIII. Pembahasan 

  • Klasifikasi

Kingdom    : Plantae

Divisi         : Thallophyta

Sub Divisi  : Pteridophyta

Classis        : Filicinae

Sub Classis : Leptosporangiate

Ordo          : Filicales

Familia       : Polypodiceae

Genus         : Adiantum

Species       : Adiantum cuneatum

  • Deskripsi

Suplir (Adiantum cuneatum) merupakan paku tanah, karena habitatnya sebagian besar di tanah. Tingginya 0,25-1,30m, mempunyai akar rimpang yang tegak, semakin menaik atau memanjat, berdaun rapat dan pendek. Sori pada sisi bawah daun ditepi taju daun yang menggulung, tapi daun tersebut berfungsi untuk selaput penutup. Habitatnya dari daratan rendah, hingga cukup tinggi di pegunungan. Biasanya dimanfaatkan tanaman hias. Paku ini termasuk dalam Genus Adiantum, karena sori bebentuk garis seperti selaput penutupnya yang terikat hanya pada satu isiBlechnum capense ( paku munding )

  • Klasifikasi

Domain : Eukarya

Kingdom : Plantae

Divisio : Pteridophyta

Kelas : Polypodiopsida

Ordo : Polypodiales

Family : Blechnaceae

Genus : Blechnum

Spesies : Blechnum capense

  • Deskripsi

Blechnum capense adalah pakis berumbai dengan daun hingga 1,3 m panjang tumbuh dari rimpang tebal ditutupi oleh sisik coklat. Percabangan rimpang dapat menyebabkan gumpalan padat tanaman. Sebuah mahkota padat daun dapat terbentuk pada berkembang, tanaman dewasa.

Athyrium bantamense

  • Klasifikasi

Domain : Eukarya

Kingdom : Plantae

Divisio : Pteridophyta

Kelas : Polypodiopsida

Ordo : Polypodiales

Family : Woodsiaceae

Genus : Athyrium

Spesies : Athyrium bantamense

  • Deskripsi

Athyrium bantamense termasuk dalam Divisi Pteridophyta pada tumbuhan paku yang masuk devisi ini yang menonjol adalah sporofitnya dan biasanya dalam kehidupan sehari- hari kita sebut pakis. Tumbuhan ini termasuk golongan tumbuhan tingkat rendah yang paling tinggi tingkatannya, karena sudah mempunyai ikatan pembuluh, akar sesungguhnya, dan sporofit dapat dapat hidup bebas tidak tergantung pada gametofitnya serta memiliki daun yang lebih besar dibandingkan dengan sub divisi yang lain.

Habitat dari tumbuhan dalam devisi paku sejati ini adalah didaerah tropis maupun subtropis. Umumnya Paku Batam atau Athyrium bantamense mudah dijumpai ditanah agak basah, bebatuan, dan daunnya menjadi hijau gelap kebiruan dengan permukaan atas mengkilap. Athyrium bantamense juga memiliki batang yang setengah tegap.

  • Klasifikasi

Kindom : Plantae

Divisio : Pteridophyta

Clasis   : Filianae

Ordo    : Ophioglossalaes

Familia : Ophioglossaceae

Genus  : Ophioglossum

Spesies : Ophioglossum pendulum

  • Deskripsi

Paku ini sring tumbuh menumpang pada pohon lain,bentuk daun seperti pita,dan daun jarang bercabang. Paku yang tumbuh secara epifitatau tumbuhnya menggantungshingga di beri nama pendulum yang artinya menggantung, sepintas bentuknysa seperti paku tanduk ucal,hanya saja daun-daunnya lemah lemah, Biasa menempel pada pohon yang lain khususnya tumbuhan palem. Akar sedikit dan rimpangnya berdaging, ental menggantung lemah, panjang samapai 40 cmlebih dan lebih 1-4 cm,. Daummya tunggal dan jumlahna sedikit, berbetuk seperti pita dengan ujung tumpul. Pada bagian pangkal menyempit, semakin kebawah semakin sempit dan membentuk tangkai yang berdaging.

  • Klasifikasi

Kingdom : Plantae

Divisio : Pteridophyta

Clasis   : Polypodiopsida

Ordo    : Polypodidae

Familia : Polypodiales

Genus : Polypodium

Spesies : Polypodium popillosum

  • Deskripsi

Paku jenis ini memilki nama lain yaitu Thylacopteris papillosa,paku ini memilki tonjolan yang di sebut papillose,tonjolan ini sangat membantu mempermudah pengenalannnya di lapangan.

Paku jenis ini hidup menumpag pada batang tumbuhan yang masih hidup ataupun mati serta di batu-batu atau bahkan pada kapur.Untuk hidup baik paku ini menghendaki tempat yang sejuk. Dapat ditemukan t rendah sampai pada ketinggian sekitar 1500 m

  • Klasifikasi

Domain : Eukarya

Kingdom : Plantae

Divisio : Pteridophyta

Kelas : Pteriopsida

Ordo : Pteridales

Family : Pteridaceae

Genus  : Anthyridium

Spesies : Anthyridium macrocarpum

  • Deskripsi

Anthyrium macrocarpum juga terkenal dengan nama sinonimnya yaitu Aspidium macrocarpum BI. Jenis ini merupakan paku tanah yang sering di jumpai di tempat-tempat yang lembab tetapi tidak tergenang air.Oleh karena itu pada tanah berbatu-batu yang berhumus, yang terdapat di pinggiran sungai atau parit  di hutan, paku ini jarang sekali membentuk kelompok. Dengan demikian, secara alami, jenis ini tumbuh bercampur dengan jenis lain yang hidup di bawah tajuk-tajuk pohon yang rindang.

Dalam penjelasan yang telah dijelaskan uraian diatas, dapat dikatakan bahwa paku yang kami temukan adalah semuanya masuk dalam divisi Pteridopyta,dan yang terbanyak dalam kelas polypodiopsida ini terjadi karena gen yang ada dalam diri tumbuhan paku tersebut yaitu dengan adanya cara reproduksi( generative dengan menggunakan spora ).

Selain gen ada pula factor lain seperti keadaan morfologi dari divisi pteridopyta yang sifatnya kormus (akar, batang, dan daun sejati) dilengkapi daun yang sempurna (frond) yang memungkinkan akan mempunyai pertahanan hidup dan perbanyakan jenis dengan cara reproduksi( generative dengan menggunakan spora ) besar kemungkinan untuk bertahan hidup apalagi di daerah penggaron lingkungan atau tempat tersebut cocok untuk habitat tumbuhan paku untuk berkembang dan menghasilkan keturunan didaerah sekitar itu juga. Disamping itu karena akarnya yang sejati jadi pertahanan akan kondisi lingkungan lebih dapat bertahan hidup lama dibantingkan yang berakar semu. Dan dengan akar yang sejati pula nutrisi makanan lebih terpenuhi dan terjaga.

IX. Kesimpulan

Tumbuhan paku merupakan suatu divisi yang warganya telah mempunyai kormus, Artinya tubuhnya dengan nyata dapat dibedakan dalam tiga bagian pokok, yaitu: akar, batang dan daun. Namun demikian tumbuhan paku belum memiliki biji, sehingga tumbuhan ini tidak termasuk ke dalam tumbuhan tingkat tinggi seperti spermatophyta. Begitu pula pengamatan studi lapangan yang telah dilakukan terhadap lumut, Dapat diketahui beberapa keanekaragaman tumbuhan rendah yang kaya pada daerah kawasan Taman Hutan Penggaron. Seperti halnya bentuk-bentuk tumbuhan lumut dan juga lichen (lumut kerak).

Dari hasil pengamatan kami bahwa sebagian besar tumbuhan paku yang ada di kawasan Taman Hutan Penggaron berada dilahan dekat pintu masuk taman, Sedangkan tumbuhan lumut banyak ditemukan dilapangan golf yang luas dan tempatnya masuk jauh dari tempat tumbuhan paku ditemukan dan tidak jarang pula lumut ditemukan menempel dipohon dan adapula yang tumbuh dipermukaan jalan setapak.

Dalam eksplorasi tumbuhan paku didaerah penggaron ini divisi pteridopyta dan dalam kelas polypodiopsida paling banyak ditemukan. Lalu urutan ke dua dalam kelas filicinae dan  yang paling sedikit ditemukan pada kelas pteriopsida dengan spesies (Anthyridium macrocarpum)

X. Saran.

Diharapkan studi lapangan berikutnya yaitu harus lebih baik dari yang sekarang,  baik dari segi sarana dan prasarana harus lebih diperhatikan. Efisiensi waktu perlu diperhatikan agar dapat melakukan studi lapangan dengan benar, optimal dan mendapatkan hasil yang sebaik-baiknya.

Baca juga artikel menarik lainnya :RPP Materi Tingkat Keanekaragaman Hayati Indonesia dan  Fungsi Xilem dan Floem Tumbuhan

Daftar pustaka

  • Tjitrosoepomo, Gembong. 1989.Taksonomi Tumbuhan Rendah. Yogyakarta GadjahMada University.
  • Sianipar, Prowel. 2010.Biologi. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher
  • Pteridophyta. http://budisma.web.id/materi/sma/biologi-kelasx/ciri-ciri-tumbuhan-paku-pteridophyta/ (10 juni 2013) 2000.Biologi Umum. Jakarta: Erlangga.
  • Birsyam, Inge L. 1992. Botani Tumbuhan Rendah. Bandung: ITB.
  • Tjitrosoepomo, Gembong. 1989. Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta : Gajah Mada University Press
  • Birsyam,Inge.2004.Botani tumbuhan Rendah.Bandung : Biologi FMIP ITB
  • Campbell NA, Reece JB, Mitchell LG,  and Taylor MR. 2002. Biologi. 4th , Addison Wesley World Student Series, San Fransisco.

Sekian pembahasan terkait tanaman paku, semoga bermanfaat jangan lupa komen terkait penulisan, kunjungi juga :Budidaya Tanaman Hidroponik dan Aeroponik

Leave A Reply

Your email address will not be published.