Mari Belajar Biologi

Perbedaan Archaebacteria dan Eubacteria

0

Perbedaan Archaebacteria dan Eubacteria – Kingdom Monera terdiri atas organisme-organisme prokariotik bersel tunggal. Meskipun bersel tunggal, Monera merupakan organisme sempurna karena sudah dapat melakukan metabolisme makanan, membuang zat sisa, tumbuh dan dapat pula bereproduksi. Semua kemampuannya tersebut merupakan ciri makhluk hidup. Semuanya merupakan bakteri yang memiliki ribosom dan seuntai DNA sirkular telanjang yang berperan sebagai kromosom, tetapi organisme- organisme itu umumnya tidak memiliki organel-organel yang terselubungi oleh membran, misalnya saja mitokondria,  lisosom,  peroksisom, retikulum endoplasma dan nukleus sejati. Anggota kingdom Monera membelah melalui pembelahan biner, bukan dengan mitosis, tapi bisa mengalami rekombinasi genetik. Fosil- fosil monera juga sudah ditemukan di lapisan batu yang berumur sekitar 3,5 miliar tahun. Monera dibagi menjadi dua subkingdom yaitu Archaebacteria dan Eubacteria. Eubacteria lebih umum ditemukan dan lebih baru berevolusi.

Perbedaan Archaebacteria dan Eubacteria

Sesuai dengan namanya (archae berarti “kuno”) Archaebacteria merupakan sel-sel hidup yang paling tua. Dinding selnya tidak memiliki peptidoglikan yang biasa ditemukan di dinding sel semua Eubacteria. Lipid yang ada di plasma membran archaebakteria memiliki cabang, berbeda tidak hanya dan bakteri lain tapi juga dan seluruh organisme lain. Susunan lipid yang tak biasa itu berkaitan dengan lingkungan-lingkungan ekstrim ternpatnya beradaptasi. Bentuk-bentuk archaebakteri yang fototropik rnenggunakan pigmen bakteriorodopsin, dan bukannya bakterio klorofil (klorofil a) yang digunakan oleh eubakteria.

PERBEDAAN ARCHAEBACTERIA DAN EUBACTERIA

Di tingkat molekular, RNA transfer dan RNA ribosom archaebakteri memiliki sekuens nukleotida khas yang tak dimiliki organisme lain, walaupun secara struktural lebih mirip dengan yang dimiliki eukariot, bukannya yang dimiliki eubakteri. Untuk lebih jelasnya, berikut penjelasan masing-masing dari archaebacteria dan bakteria.

ARCHAEBACTERIA

Archacbacteria merupakan kelompok bakteri yang pertama muncul di bumi. Archaebacteria disebut juga bakreri purba (archae = purba). Bakteri dari kelompok ini memiliki ciri hidup dalarn kondisi lingkungan yang cukup ekstrim. Contohnya pada kondisi panas (termofil) dan asam (asidofil). Berdasarkan Iingkungannya tersebut, Archaebacteria dibagi ke dalam tiga kelompok utarna. Tiga kelompok tersebut, yaitu metanogen, halofil ekstrim, dan termofil ekstrim.

  1. Metanogen

Archaebacteria ini dinamai sesuai dengan rnetabolismc energinya yang khas, yaitu H2 digunakan untuk rnereduksi CO2 menjadi merana (CH2). Metanogen merupakan Archaebactcria yang tergolong anaerob strict (tidak dapar mentolerir keberadaan oksigen). Artinya, Archaebacteria ini akan teracuni jika terdapat oksigen. Archae jenis ini hidup di lumpur dan rawa tempat mikroorganisme lain yang telah menghabiskan semua oksigen

Metanogen memiliki peranan sebagai pengurai yang penting. Misalnya, dalam pengolahan kotoran yang berasal dan sampah dan hewan, kernudian diubah menjadi metana yang merupakan bahan bakar. Spesies rnetanogen lainnya hidup di lingkungan anaerobik di dalam perut hewan, khususnya hewan yang memakan tumbuhan. Archaebacteria jenis ini berperan penting dalam proses pembentukan nutrisi di hewan-hewan tersebut, terutama yang mengandalkan makanan berselulosa.

Baca juga : Sel Tumbuhan dan Fungsinya

  1. Halofil Ekstrim

Archaebacreria jenis ini memiliki ciri hidup di tempat-rempat yang memiliki salinitas tinggi (halo=gararn, dan philos pecinta). Dan asal bahasa tersebut, Archaebacteria halofil memiliki arti pecinta garam atau hidup ditempat yang memiliki salinitas (kadar garam) cukup tinggi. Misalnya, di danau air asin dan di laut mati. Contoh dan Archaebacteria kelompok ini adalah Halobacterium salinariurn.

  1. Termofil Ekstrim

Archaebactcria ini merniliki ciri-ciri hidup pada suhu yang ekstrim. Archaebacteria ini dapat bertahan hidup dalam lingkungan panas dengan suhu optimumnya 60°C sampai 80°C. Bakteri ini hidup dengan mengoksidasi sulfur. Contohnya, Sulfolobus yang menempati mata air panas sulfur di Yellowstone National Park, USA.

EUBACTERIA

Eubacteria atau dikenal juga bakteri sebenarnya, merupakan mikroorganisrne yang memiliki ciri-ciri uniseluler mikroskopis, umumnya tidak berklorofil, dan termasuk sel prokariotik. Bakteri dapat ditemukan hampir di semua tempat. Bakteri tumbuh dengan subur di udara, air, makanan, tanah, tubuh hewan, dan tumbuhan. Bakteri bersifat saprofit atau parasit.

Baca juga : Sistem peredaran darah pada manusia

Bakteri yang bersifat saprofit ada yang menguntungkan manusia, sedangkan yang bersifat parasit dapat menimbulkan penyakit, baik pada tumbuhan, hewan, manusia maupun organisme lainnya. Bakteri merupakan organisme mikroskopis dan rata-rata berdiameter 1,25 µm. Bakteri yang terkecil, Dialister pneumosintes, panjang tubuhnya 0,15 µm-0,30 µm. Adapun bakteri yang terbesar, Spirillium volutans, panjang tubuhnya 13 µm-15 µm. Berdasarkan bentuknya, bakteri dapat dikelompokkan kedalam tiga kelompok, yaitu bulat (coccus), batang (bacillus), dan berbentuk spiral (spirillum).

Agar lebih mudah untuk dipahami, berikut tabel Perbedaan Archaebacteria dan Eubacteria.

Tabel Perbedaan Archaebacteria dan Eubacteria

Demikian artikel mengenai Perbedaan Archaebacteria dan Eubacteria. Semoga artikel diatas dapat membantu kamu belajar biologi dan menambah wawasan. Semoga bermanfaat.

Referensi

Fried, G.H. & Hademenos, G.J., 2016. Biologi. Jakarta: Erlangga.

Kamana, O., 2008. Biologi. Bandung: Grafindo Media Pratama.

Leave A Reply

Your email address will not be published.